Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sejarah Lengkap Idul Adha dan Berqurban

Sejarah Lengkap Idul Adha dan Berqurban

Sejarah Lengkap Idul Adha dan Berqurban


Setelah sebulan lalu kita merayakan idul fitri maka sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan hari raya idul adha.

Hari raya idul adha sudah cukup banyak diulas baik dari sejarah, pelaksanaan, tata cara dan juga hikmah dibalik hari raya idul adha.

Namun tidak ada salahnya untuk tetap mempelajari idul adha agar tetap bisa mengagungkan orang-orang salih terdahulu.

Ada beberapa poin yang akan dibahas di tulisan kali ini yaitu sejarah lengkap idul adha dan berqurban.

Idul Adha identik dengan Berqurban

Hari raya idul adha sangat identik dengan berqurban, hal ini bukan hanya sekedar menyembelih hewan dan aktifitas pembagian daging, 

akan tetapi berqurban memiliki sejarah kuat dan memiliki posisi penting bagi orang-orang muslim.

Maka dari itu mempelajari sejarah idul adha bisa menjadi poin yang utama agar tidak salah mengartikan esensi dari qurban itu sendiri.

Terdapat sebuah ayat dalam QS Al Hajj ayat 34 yang berbunyi:

Artinya: dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)

Ayat ini menjadi ruh dari pelaksanaan qurban di muka bumi ini, dan sudah jelas bahwa penyembelihan hewan qurban sudah disyariatkan kepada setiap umat.

Beberapa ahli tafsir memberikan makna yang berbeda pada kata “umat” di sini, karena umat mana yang telah disyariatkan? maka perlu melihat dari beberapa ahli tafsir tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1. Di dalam tafsir At-Tabri disebutkan bahwa makna “umat” pada ayat ini adalah setiap jamaah terdahulu yang beriman kepada Allah SWT.

2. Di dalam tafsir Ibnu ‘Asyuri berpendapat makna “umat” pada ayat ini adalah orang-orang ahli agama yang ikut serta dalam mengikuti perintah Allah SWT.

3. Di dalam tafsir Ibnu Katsir berpendapat makna “umat” pada ayat ini adalah orang-orang mekah.

Penulis mengambil simpulan dari beberapat ahli tafsir di atas makna “umat” pada ayat ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT yang hidup sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

 

Qurban di zaman Nabi Adam A.S

Termasuk di zaman Nabi Adam A.S, teringat dengan kisah kedua anak Nabi Adam A.S yakni Qabil dan Habil ketika mereka diperintahkan untuk berkorban.

Qabil memberikan hasil pertaniannya yaitu buah yang busuk dan Habil memberikan hasil peternakannya yaitu hewan yang kualitas bagus.

Hal ini disebutkan dalam QS Al Maidah ayat 27 yang berbunyi:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

 

Qurban di zaman Nabi Ibrahim A.S

Dan termasuk juga zaman Nabi Ibrahim A.S, sebagaimana yang kita ketahui bersama sejarah yang fundamental yaitu ketika Nabi Ibrahim A.S bermimpi bahwa Beliau menyembelih puteranya yaitu Nabi Ismail A.S.

Hal ini terdapat dalam QS Ash-Shafat ayat 102 yang berbunyi:

Artinya” Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Nabi Ismail A.S merupakan anak Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, juga Nabi Ismail adalah seorang anak yang patuh kepada orang tuanya.

Kemudian Nabi Ibrahim A.S meminta pendapat puteranya atas mimpinya tersebut, karena Nabi Ismail A.S memiliki keimanan kepada Allah SWT maka tanpa ragu Nabi Ismail A.S mengiyakan mimpi Ayahnya.

Ibnu Katsir menyebutkan dalam buku tafsirnya yaitu Tafsir Al Quranul ‘adzim pernyataan Nabi Ibrahim A.S yang akan menyembelih anaknya merupakan ujian atas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Di dalam proses Nabi Ibrahim A.S akan menyembelih putera kesayangannya Beliau diganggu oleh setan, namun Nabi Ibrahim A.S sudah memiliki tekad bulat dan akan tetap melaksanakan perintah Allah SWT.

Nabi Ismail A.S mengira bahwa Ayahnya ragu untuk menyembelihnya, kemudian Nabi Ismail A.S melepaskan tali kaki dan tangannya agar menjadi bukti bahwa Nabi Ismail A.S menerima perintah dan tanpa ada paksaan dari Ayahnya.

Nabi Ismail meminta Ayahnya untuk memalingkan wajahnya agar Nabi Ibrahim A.S tidak melihat Nabi Ismail A.S ketika disembelih.

Nabi Ismail berkata “Wahai ayahku kerjakanlah apa yang sudah Allah SWT perintahkan in syaa Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Namun sedetik setelah Nabi Ismail A.S akan disembelih Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim untuk memberhentikannya dan Allah SWT sudah melihat keimanan dan ketaqwaan keduanya dan juga menerima keikhlasan dari keduanya.

Atas dasar tersebut sebagai imbalan untuk mereka maka Allah SWT menggantikan dengan penyembelihan seekor biri-biri sebagai korban.
Qurban di zaman Nabi Muhammad SAW

Dan penyembelihan hewan qurban terus berlangsung sampai pada zaman Nabi Muhammad SAW, dan

Bagaimana qurban di Zaman Nabi Muhammad SAW?


Lets check this out!

Nabi Muhammad SAW berqurban dengan jumlah yang tidak sedikit, pun Nabi Muhammad SAW selalu berqurban setiap tahunnya. Bahkan Beliau berqurban 100 ekor unta pada tahun terakhir haji sebelum meninggal dunia.

Tentu saja Nabi Muhammas SAW berqurban atas perintah Allah SWT, banyak yang menyebutkan bahwa perintah untuk berqurban pada Nabi Muhammad SAW yaitu terdapat pada QS Al Kautsar ayat 2 yang berbunyi:


Artinya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah

QS Al Kautsar ini diturunkan untuk menghibur Rasulullah SAW, karena kaum kafir quraisy yang menghina Rasulullah SAW dengan berkata kepada salah satu orang yahudi yang datang ke Mekah.

Orang kafir quraisy berkata “engkau lebih mulia dari Muhammad”, mendengar ucapan orang kafir quraisy tersebut Nabi Muhammad SAW merasa gelisah, maka turunlah QS Al Kautsar ayat 2.

Berikut adalah beberapa pendapat para ahli tafsir terkait ayat ini:

1. Di dalam tafsir As-Su’udi disebutkan Shalat dan berqurban merupakan ibadah yang mulia.

2. Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan salat id dan menyembelih hewan qurban dan Rasulullah SAW bersabda “barang siapa yang salat dengan salat kami dan menyembelih dengan penyembelihan kami, maka sembelihannya benar, namun barang siapa yang menyembelih sebelum salat id maka sembelihan tersebut tidak terhitung untuknya”

3. Di dalam tafsir Al Qurthubi disebutkan bahwa dalam ayat ini memerintahkan untuk mendirikan salat id di hari nahr (idul adha) kemudian melakukan penyembelihan di Mina.

Dari ketiga pendapat para ahli tafsir, penulis mengambil simpulan bahwa ayat ini merupakan dalil untuk melaksanakan salat idul adha dan melaksanakan ibadah qurban.

Salat idul adha dilaksanakan setiap pada tanggal 10 dzulhijjah dan berqurban dilaksanakan dari tanggal 10 dzulhijjah sampai 13 dzulhijjah.

Mengapa hari raya idul adha dirayakan setiap tanggal 10 dzulhijjah? karena pada tanggal tersebutlah ibadah haji mencapai pada bagian inti dari ibadah haji yaitu wukuf di arafah.

Orang yang sedang haji setelah wukuf di arafah keesokan harinya mereka akan pergi ke Mina untuk melempar jumrah, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim A.S ketika digoda oleh setan sebelum menyembelih anaknya.

Alhamdulillah kita sudah belajar terkait sejarah idul adha dan juga qurban, simpulan dari tulisan kali ini adalah sejarah idul adha diawali dengan berqurban terlebih dahulu.

Berqurban sudah ada sejak lama namun disempurnakan di zaman Nabi Ibrahim A.S dan di zaman Nabi Muhammad SAW.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat dan menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Kebaikan dan kebenaran datang dari Allah SWT dan kekurangan datang dari diri ini, maka dari itu jika ada kekurangan jangan sungkan untuk berikan saran di bawah ini yah. Terimakasih.

Posting Komentar untuk "Sejarah Lengkap Idul Adha dan Berqurban"