Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Lengkap : Sejarah dan Pemaknaan Idul Fitri dalam Islam

Lengkap : Sejarah dan Pemaknaan Idul Fitri dalam Islam

Lengkap : Sejarah dan Pemaknaan Idul Fitri dalam Islam

Idul fitri merupakan salah satu hari perayaan besar bagi umat muslim di seluruh dunia, tak terasa bulan ramadhan yang mulia akan segera berakhir

semoga kita bisa dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan selanjutnya. Amin. 

Orang-orang muslim memberikan makna yang berbeda pada idul fitri, namun apakah pemaknaan tersebut sudah benar sesuai dengan keilmuannya?

untuk menjawab hal tersebut maka dalam tulisan kali ini ada beberapa poin yang akan dibahas. 

Pertama, bagaimana  sejarah idul fitri dalam islam? dan yang kedua yaitu  makna nama idul fitri dari segi bahasa arab. Jadi yuk langsung saja masuk pada pembahasan pertama yaitu bagaimana sejarah idul fitri dalam islam. 



A. Sejarah Idul Fitri dalam Islam 

Masyarakat jahiliyah arab zaman Rasulullah SAW memiliki dua hari perayaan besar yaitu  Nairuz dan Mihrajan. 

Kedua hari raya tersebut  berasal dari zaman Persia Kuno dan dirayakan dengan cara berpesta, menari-nari dan bermabuk-mabukan. 

Waktu pelaksanaan Nairuz bagi orang Majusi dilaksanakan pada setiap hari pertama di awal tahun baru menurut perhitungan kalendar masehi, 

sedangkan bagi penduduk Mesir Nairuz dilaksanakan pada setiap hari pertama tahun Qibhti. Sedangkan Mihrajan dilaksanakan pada waktu enam bulan setelah pelaksanaan hari raya Nairuz. 

Sebelum ada larangan dalam islam, orang-orang muslim di madinah mengikuti perayaan tersebut, sampai datang Rasulllah SAW dan bersabda: 

عَنْ اَنَسِ بِنْ مَالِكِ قَالَ كَانَ لِاَهْلِ اْلجَاهِلِيَةِ يَوْمَانِ فِيْ كُلِ سَنَةٍ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فَلَمَّا قُدِمَ النَّبِيُ صَلَى اللهُ عَلَيِهِ وَسَلَّمَ اْلمَدِيْنَةً قَالَ كَانَ لَكًمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا وَقَدْ اَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْم اْلفِطْرِ وَيَوْمَ اْلاَضْحَي

Artinya:  Dari Anas bin Malik ia berkata orang-orang jahiliyah memiliki dua hari untuk bersenang-senang pada setiap tahunnya, maka ketika Nabi Muhammad SAW datang di kota Madinah, lalu Beliau bersabda “ dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang, sekarang Allah SWT telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu idul fitri dan idul adha”. 

Atas dasar hadits tersebutlah idul fitri hadir untuk umat muslim yang kita rasakan sampai saat ini. 

Idul fitri untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tahun ke dua hijiriyah setelah perang badar yang dimenangkan oleh umat muslim yang jumlahnya sedikit saat itu.  

Idul fitri bisa dikatakan sebagai ganjaran atau hadiah atas perjuangan di bulan ramadhan. 

Lalu bagaimana dengan perjuangan umat muslim saat ini? banyak di kalangan umat muslim yang mengajak untuk berjuang dalam mempersiapkan sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Jabir, bahwasannya ketika datang akhir malam bulan ramadhan, langit dan bumi serta para malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Nabi Muhammad SAW, lalu seorang sahabat bertanya “Wahai Rasulullah SAW musibah apakah itu?“ Rasulullah SAW menjawab “lenyaplah bulan ramadhan karena sesungguhnya doa-doa di bulan Ramadhan dikabulkan, sedekah diterima, kebaikan dilipat gandakan  dan azab ditolak”.

Kesedihan yang dirasakan umat muslim karena ditinggalkan oleh bulan ramadhan, bulan yang mulia ini di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan maka Allah SWT menghibur hamba-Nya dengan perayaan hari raya idul fitri. 

B.Makna Nama Idul Fitri Dari Segi Bahasa Arab

Apa itu idul fitri? so kita lanjut pada pembahasan poin kedua yaitu makna nama idul fitri dari segi bahasa arab. 

1.Kata Id dalam idul fitri 

Banyak sekali beredar di kalangan muslim terkhusus di masyarakat Indonesia yang memaknai idul fitri sebagai “kembali suci”.

Pemaknaan ini bisa dikatakan kurang tepat, karena mereka beranggapan bahwa kata idul fitri terdiri dari dua kata yaitu “id” artinya kembali dan “fitri” artinya suci. 

Padahal jika kita perhatikan dalam kaidah bahasa Arab, idul fitri bukanlah “kembali suci”, so kita bahas satu-satu yah.

Banyak yang mengira  bahwa id merupakan bentuk mashdar dari kata عَادَ – يَعُوْدُ, namun sebenarnya bentuk mashdar dari kata ini adalah   عَوْدًا  atau عَوْدَةً bukan عِيْدٌ . 

Kata عِيْدٌ hanyalah sebuah idiom dalam bahasa Arab, yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah ayat 114 

Artinya:  Isa putera Maryam berdoa "Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama".

Pada ayat di atas terdapat lafadz عِيْدًا yang memiliki arti “hari raya” bukan “kembali” yah teman-teman. 


2.Kata fitri dalam idul fitri

Kata fitri bukanlah “suci”, namun kata fitri berasal dari kata فَطَرَ – بَفْطُرُ – فِطْرُ , yang mana dalam kamus bahasa Arab disebutkan artinya “berbuka puasa”.

Namun jika dikaji lebih dalam lagi makna kata ini adalah untuk semua aktivitas pertama seperti untuk sarapan pagi disebut dengan فُطُوْرٌ . 

Sedangkan kata “suci” dalam bahasa Arab adalah طَهُوْرٌ jadi sangat jauh yah perbedaannya. Memang ada sebuah hadits yang bunyinya seperti di bawah ini!

 مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلَا وُلِدَ عَلَى اْلفِطْرَةِ أَبَزَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَنِهِهِ

Artinya: tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim), lalu kedua orangtuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi (HR Muslim). 

Kata اْلفِطْرَةِ pada hadits tersebut beda dengan kata فِطْرٌ pada kata   عِيْدُ اْلفِطْرِ . Dari segi jumlahnya pun sudah berbeda, maka maknanya pun sudah pasti beda.

Agar lebih kuat mari perhatikan hadits di bawah ini!

لَا نَزَالُ اُمَّتِيْ عَلَى سُنَّتِيْ مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُوْمُ

Artinya: umatku akan senantiasa berada di atas sunahku selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang (HR Khuzaimah). 

Kata فِطْرٌ di atas memiliki arti berbuka yah teman-teman bukan “suci”, jadi intinya فِطْرٌ dan اْلفِطْرَةِ  itu beda yah maknanya. 

Jadi jika digabungkan kata idul fitri sesuai dengan kaidah kebahasaan memiliki arti “hari raya makan pagi” atau “hari pesta makan”. Dan hal ini pun selaras dengan diharamkanya untuk berpuasa di hari raya idul fitri. 

Alhamdulillah selesai sudah pembahasan pada tulisan kali ini yaitu tentang sejarah idul fitri dan bagaimana makna idul fitri sesuai dengan kaidah kebahasaan yang benar.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan bisa menambahkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dan yang terakhir yaitu kita bisa mengetahui pemaknaan idul fitri dengan baik. 

Selamat hari raya idul fitri, semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita, Amin. 


Referensi Sejarah dan Pemaknaan Idul Fitri dalam Islam

  1. Idul Fitri Bukan Kembali Suci | Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam (konsultasisyariah.com)
  2. kamus arab-indonesia
  3. kamus maaniy
  4. Kebiasaan Rasulullah SAW di Hari Raya Idul Fitri - Ramadan Liputan6.com
  5. rikzamaulan.blogspot.com
  6. Sebelum Ada Idul Fitri, Orang Arab Punya Dua Hari Raya, Nairuz dan Mihrojan - Nusa Daily
  7. Sejarah Perayaan Idul Fitri dari Zaman Nabi Hingga Kini | Republika Online
  8. Sumber https://rumaysho.com/12648-tahun-baru-perayaan-jahiliyah.html
  9. Tafsir Al-Quran Aktual: Idul Fitri, Makna dan Dakwah | kumparan.com
  10. Tahun Baru, Perayaan Jahiliyah | Rumaysho.Com


Posting Komentar untuk "Lengkap : Sejarah dan Pemaknaan Idul Fitri dalam Islam"